Selasa, 30 April 2013

PONED & PONEK



MAKALAH PONED DAN PONEK


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia, merupakan suatu masalah yang sejak tahun 1990-an mendapat perhatian besar dari berbagai pihak. AKI di Indonesia tahun 2003 adalah 307/100.000 kelahiran hidup dan penurunan AKI pada tahun tersebut mencapai 32% dari kondisi tahun 1990. Keadaan ini masih jauh dari target harapan yaitu 75% atau 125/100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 35/1000 kelahiran hidup pada tahun 2010 (Dinas kesehatan Provinsi Lampung, 2006 : 1).Penyebab kematian ibu adalah komplikasi pada kehamilan, persalinan dan nifas yang tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu. Menurut data Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 sebab kematian ibu karena perdarahan 28%, eklamsi 24%, infeksi 11%, komplikasi puerperium 8%, emboli Obstetri 3% dan lain-lain 11%. Sedangkan penyebab kematian neonatal karena BBLR 29%, asfiksia 27%, masalah pemberian minum 10%, tetanus 10%, gangguan hematologi 6%, infeksi 5% dan lain-lain 13% (Rachmawaty, 2006 : 1)Upaya menurunkan AKI dan AKB beberapa upaya telah dilakukan. Upaya tersebut diantaranya adalah mulai tahun 1987 telah dimulai program safe motherhood dan mulai tahun 2001 telah dilancarkan Rencana Strategi Nasional making pregnancy safer (MPS). Adapun pesan kunci MPS adalah : (1) Setiap persalinan, ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih; (2) Setiap komplikasi Obstetri dan neonatal mendapatkan pelayanan yang adekuat; (3) Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran. Realisasi dari MPS tersebut di tingkat Puskesmas yang mempunyai dokter umum dan bidan, khususnya puskesmas dengan rawat inap dikembangkan menjadi Puskesmas mampu memberikan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED) (Koesno, 2004 : 3).Puskesmas mampu PONED menjadi tempat rujukan terdekat dari desa sebagai pembina bidan dan mendekatkan akses pelayanan kegawatdaruratan pada ibu hamil dan bersalin karena komplikasi dalam kehamilan dan persalinan tidak dapat diduga atau diramalkan sebelumnya (Dinas Kesehatan Provinsi 2006 : 1). Pengembangan Puskesmas mampu PONED dengan melatih tenaga dokter, perawat dan bidan serta melengkapi sarana dan prasarana sesuai syarat-syarat yang telah ditetapkan diharapkan dapat mencegah dan menangani komplikasi kehamilan dan persalinan sehingga dapat menurunkan AKI dan AKB. Puskesmas Perawatan Panjang Kota dengan cakupan ibu hamil resiko tinggi 228 orang dari 1140 ibu hamil pada tahun 2006, (Laporan Puskesmas Rawat Inap KP Kotamadya Bandar Lampung 2007 : 1). Maka dari hasil evaluasi tahun 2006 Puskesmas Panjang ditunjuk untuk dikembangkan menjadi Puskesmas mampu PONED sejak bulan Oktober 2006 (Laporan Puskesmas Perawatan Panjang  2006 : Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis tertarik untuk menulis makalah yang berjudul  Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas

C.     Manfaat penulisan
1.      Manfaat teoritis
a.       Diharapkan makalah ini dapat menjadi kontribusi/ kajian wawasan ilmu pengetahuan dalam ilmu kebidanan khususnya tentang pelayanan obstetric  dan neonatal emergensi dasar (PONED) dan pelayanan obstetric dan neonatal emergensi komperhensif (PONEK).
b.      Dapat menjadi acuan bagi pengkajian selanjutnya.

2.      Manfaat praktis
a.       Manfaat bagi institusi
Merupakan input dalam memberikan bekal pengetahuan bagi mahasiswa
b.      Manfaat bagi mahasiswa
Untuk dapat menambah pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.










  
BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    PELAYANAN OBSTETRI NEONATUS ESENSIAL DASAR (PONED)

1.       PENGERTIAN PONED
PONED merupakan kepanjangan dari Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar. PONED dilakukan di Puskesmas induk dengan pengawasan dokter. Petugas kesehatan yang boleh memberikan PONED yaitu dokter, bidan, perawat dan tim PONED Puskesmas beserta penanggung jawab terlatih.
Pelayanan Obstetri Neonatal Esensial  Dasar dapat dilayani oleh puskesmas yang mempunyai fasilitas atau kemampuan untuk penangan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal dasar. Puskesmas PONED merupakan puskesmas yang siap 24 jam, sebagai rujukan antara kasus-kasus rujukan dari polindes dan puskesmas. Polindes dan puskesmas non perawatan disipakan untuk mealkukuan pertolongan pertama gawat darurat obstetri dan neonatal (PPGDON) dan tidak disiapkan untuk melakukan PONED.

2.      BATASAN DALAM PONED
Dalam PONED bidan boleh memberikan
a.       Injeksi antibiotika
b.      Injeksi uterotonika 
c.       Injeksi sedative
d.      Plasenta manual
e.       Ekstraksi vacuum
f.       Tranfusi darah
g.      Operasi SC 

3.      INDIKATOR KELANGSUNGAN DARI PUSKESMAS PONED 
a.       Kebijakan tingkat PUSKESMAS
b.      SOP (Sarana Obat Peralatan)
c.       Kerjasama RS PONED
d.      Dukungan Diskes
e.       Kerjasama SpOG
f.       Kerjasama bidan desa
g.      Kerjasama Puskesmas Non PONED
h.      Pembinaan AMP 
i.        Jarak Puskesmas PONED dengan RS
4.      TUJUAN PONED
PONED diadakan bertujuan untuk menghindari rujukan yang lebih dari 2 untuk memutuskan mata rantai rujukan itu sendiri. jam dan

5.      HAMBATAN DAN KENDALA DALAM PENYELENGGARAAN PONED
Hambatan dan kendala dalam penyelenggaraan PONED dan yaitu :
a.       Mutu SDM yang rendah
b.      Sarana prasarana yang kurang
c.       Ketrampilan yang kurang
d.      Koordinasi antara Puskesmas PONED dan RS PONEK dengan Puskesmas Non PONED belum maksimal
e.       Kebijakan yang kontradiktif (UU Praktek Kedokteran)
f.       Pembinaan terhadap pelayanan emergensi neonatal belum memadai

6.      TUGAS PUSKESMAS PONED
a.       Menerima rujukan dari fasilitas rujukan dibawahnya, Puskesmas pembantu dan Pondok bersalin Desa
b.      Melakukan pelayanan kegawatdaruratan obstetrik neonatal sebatas wewenang
c.       Melakukan rujukan kasus secara aman ke rumah sakit dengan penanganan pra hospital.

7.      SYARAT PUSKESMAS PONED
a.       Pelayanan buka 24  jam 
b.      Mempunyai Dokter, bidan, perawat  terlatih PONED dan siap melayani 24 jam
c.       Tersedia alat transportasi siap 24  jam
d.      Mempunyai hubungan kerjasama dengan Rumah Sakit terdekat dan Dokter Spesialis Obgyn dan spesialis anak sebagai  





8.       PETUGAS PELAKSANA PONED
a.    Dokter umum  2 orang
b.   Bidan  8 orang 
c.    Perawat 
d.   Petugas yang telah mendapat pelatihan PONED 

9.      PELAYANAN YANG DILAKSANAKAN
Pelayanan PONED
a.       Pelayanan KIA/KB
b.      Pelayanan ANC & PNC
c.       Pertolongan Persalinan normal
d.      Pendeteksian Resiko tinggi Bumil 
e.       Penatalaksanaan Bumil Resti 
f.       Perawatan Bumil sakit
g.      Persalinan Sungsang                       
h.      Partus Lama                                   
i.        KPD                                             
j.        Gemeli                               
k.      Pre Eklamsia                     
l.        Perdarahan Post Partum
m.    Ab. Incomplitus
n.      Distosia Bahu
o.      Asfiksia
p.      BBLR
q.      Hypotermia
r.        Komponen pelayanan maternal 
1)   Pre eklamsia/eklamsia 
2)   Tindakan obstetri pada pertolongan persalinan 
3)   Perdarahan postpartum 
4)   Infeksi nifas 
s.       Komponen pelayanan neonatal 
1)   Bayi berat lahir rendah 
2)   Hipotermi 
3)   Hipoglikemi 
4)   Ikterus/hiperbilirubinemia 
5)   Masalah pemberian nutrisi 
6)   Asfiksia pada bayi 
7)   Gangguan nafas 
8)   Kejang pada bayi baru lahir 
9)   Infeksi neonatal 
10)           Rujukan dan transportasi bayi baru lahir 

10.   FAKTOR PENDUKUNG KEBERHASILAN PONED PUSKESMAS ANTARA LAIN 
a.    Adanya Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JKRS, Jamkesmas)
b.   Sistem rujukan yang mantap dan berhasil
c.    Peran serta aktif bidan desa
d.   Tersedianya sarana/prasarana, obat dan bahan habis pakai
e.    Peran serta masyarakat, LSM, lintas sektoral dan Stage Holder yang harmonis.
f.    Peningkatan mutu pelayanan perlu menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta kebutuhan masyarakat dan sesuai dengan standart pelayanan minimal.


B.     PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENSI KOMPERHENSIF (PONEK)

1.   Pengertian PONEK
PONEK adalah Pelayan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif di Rumah Sakit, meliputi kemampuan untuk melakukan tindakan :
a) seksia sesaria,
b) Histerektomi,
 c) Reparasi Ruptura Uteri, cedera kandung/saluran kemih,
d) Perawatan Intensif ibu dan Neonatal,
 e) Tranfusi darah.            
2.   RS PONEK 24 Jam adalah RS yang memiliki kemampuan serta fasilitas PONEK siap 24 jam untuk meberikan pelayanan terhadap ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir dengan nkomplikasi baik yang datang sendiri atau atas rujukan kader/masyarakat, bidan di desa, Puskesmas dan Puskesmas PONED.
3.    Penanganan definitif adalah penanganan/pemberian tindakan terakhir untuk menyelesaikan permaslahan setiap kasus komplikasi kebidanan.
PENATALAKSANAAN
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Maxi R. Rondonuwu, DSHM membuka Pelatihan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED) yang dilaksanakan di Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara. Pelatihan ini melibatkan dokter, bidan dan perawat dari 12 kecamatan di 3 kabupaten, yaitu kab. Minahasa Utara, Kab. Kepulauan Sangihe dan Kab. Kepulauan Sitaro. 
 
 





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar